PENGUMUMAN

SUKOHARJO – Perhatian pemerintah terhadap pondok pesantren (ponpes) terus ditingkatkan, termasuk upaya membangun ekonomi keumatan berbasis ponpes. Dengan begitu, ponpes semakin berkembang dan jiwa kewirausahaan santri kian tumbuh. Kementerian Perdagangan (Kemendag) membidik usaha kecil menengah (UKM) yang dikembangkan pondok pesantren (Ponpes) sebagai inkubator ekonomi keumatan. Sebagai pusat pendidikan berbasis agama, Ponpes didorong harus mampu menghidupi diri sendiri dan lingkungan dari kegiatan ekonomi yang dihasilkan.

Hal itu disampakan Menteri Perdagangan RI Dr. Drs. Enggartiasto Lukita saat memberi sambutan pada peresmian Gedung Hj. Sudjiatmi Notomiharjo dan Unit Kegiatan Masyarakat (UKM) Kholifatullah Singo Ludiro, serta pelantikan Jamiyyah Pengasuh Pesantren Putri dan Muballighoh (JP3M) Kabupaten Sukoharjo dan Klaten di Kompleks Ponpes Kholifatullah Singo Ludiro, Sukoharjo, Selasa (8/1).

Selain Menteri Perdagangan, hadir pula dalam acara tersebut, Hj Sudjiatmi yang merupakan bunda Presiden RI Joko Widodo, Wakil Gubernur Jateng H. Taj Yasin Maimoen, Bupati Sukoharjo H. Wardoyo Wijaya SH, MH, MM serta Forkopimda Kabupaten Sukoharjo.

“Ekonomi keumatan berbasis ponpes akan terus berproses. Tahun 2019 penyusunan akan lebih rinci untuk membuat program ini berkelanjutan. Di situlah letak keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dan tidak ada yang tertinggal maupun yang meninggalkan,” ujar Mendag.

Mendag menjelaskan, membangun ekonomi keumatan berbasis pondok pesantren tidak bisa dilakukan seketika, melainkan melalui proses yang berkelanjutan. Termasuk, belajar menghasilkan suatu produk yang bisa dijual kemudian memasarkannya.

Ditambahkan, keberadaan toko-toko ritel modern juga diharapkan ikut membangun dan membantu meningkatkan ekonomi pondok pesantren. Tidak kalah pentingnya, pembelajaran bagi para santri melalui kurikulum. Sebab membuka usaha terutama toko ritel modern tidak mudah. Perlu strategi menempatkan barang sehingga menarik konsumen. Ilmu tentang pengelolaan barang dari gudang sampai tata letak barang dan manajemen ķeuangan pun harus dikuasai santri.

Mendag Enggartiasto juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dalam memberikan kemudahan perizinan pendirian toko ritel modern berbasis pondok pesantren. Sehingga jiwa kewirausahaan para santri yang tersebar di penjuru daerah di Jateng, dapat diterapkan di berbagai bidang usaha berbasis ponpes.

“Terlebih sebelum saya ke sini, Pak Presiden Jokowi berpesan pada saya, jangan hanya datang untuk meresmikan, tetapi coba lihat apa yang bisa dilakukan karena ini berbicara tentang ekonomi keumatan,” terangnya.

Sesuai arahan Presiden RI Joko Widodo, lanjut Enggartiasto, pihaknya akan membuat ‘inkubator’ di pondok pesantren, seperti program Pemprov Jateng untuk memberdayakan jiwa kewirausahaan santri melalui ekonomi pesantren (Ekotren). Sehingga toko ritel modern berbasis ponpes tidak kalah, bahkan mampu bersaing dengan pasar ritel modern.

Sementara itu, Gubernur Jateng H. Ganjar Pranowo SH, MIP dalam sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Gubernur H Taj Yasin Maimoen menyebutkan data dari Kemenag, Jateng menempati urutan tiga tingkat nasional sebagai daerah dengan jumlah pesantren terbanyak. Pada 2017 lalu terdapat 4.759 ponpes dengan jumlah santri mencapai 614.569 orang. Jumlah ini tentu tidak sedikit. Hal itu menjadi potensi yang harus dikembangkan bersama.

“Kami terus mendorong pesantren yang ada di Jateng untuk bersama-sama bergerak maju membangun Jateng. Termasuk mendorong pesantren di Jateng untuk mengembangkan sektor pertanian dengan memanfaatkan potensi lingkungan yang mereka miliki,” terangnya.

Program Pengembangan Pertanian Terpadu Berdikari Berbasis Pesantren, menurutnya bertujuan merangkul pesantren dan mengajak kerjasama. Pesantren didorong mendidik santri-santri agar mengembangkan bidang pertanian dalam arti luas. Ternyata manfaatnya tidak hanya diperoleh pesantren itu saja tetapi juga lingkungan sekitar ponpes.

Gubernur mengatakan, pondok pesantren sebagai institusi pendidikan berbasis agama mempunyai peran sangat strategis dalam membentuk dan melahirkan generasi penerus bangsa yang akhlaqul karimah, sekaligus sebagai daya dukung percepatan pembangunan bangsa.

“Selain itu, pondok pesantren merupakan basis pembelajaran dan pengaplikasian agama Islam yang rahmatan lil alamin. Yaitu agama Islam yang membawa rahmat tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi siapapun makhluk ciptaan Allah SWT,” katanya.

Demikian informasi yang disampaikan Kabag Humas dan Protokol Setda Pemkab Sukoharjo.(Tj)